Basis dan Topik Tulisan
Seperti yang sudah disinggung di pada tip sebelumnya, tulisan opini
adalah berupa tanggapan dari fenemona yang lagi tren saat ini. Dalam
konteks tulisan opini di koran, maka tulisan yang perlu kita tanggapi
adalah sebagai berikut:
1. Isi Editorial/Tajuk sebuah media.2. Headline/Berita utama sebuah media.3. Tulisan opini.4. Hari besar nasional dan internasional.Siapapun
yang ingin jadi penulis/pengamat hendaknya tidak pernah melewatkan tiga
poin pertama di atas setiap kali membaca sebuah koran. Dan selalu
mengingat poin ke empat.(1) Tanggapan Editorial/Tajuk sebuah media
adalah suara atau sikap resmi dari media yang bersangkutan tentang
sebuah kasus/kejadian tertentu; sesuai dengan misi media tsb. Menanggapi
editorial/tajuk di harian Kompas tentu saja berbeda dengan cara kita
menanggapi editorial di harian Republika, misalnya. Umumnya menanggapi
tulisan editorial/tajuk harus cepat. Idealnya, tanggapan untuk
tajuk/editorial hari ini dapat dikirim hari ini juga sehingga dapat
dimuat esok harinya di media terkait. Namun, kalau tanggapan kita baru
selesai dalam dua hari, teruskan dikirim ke media terkait, karena
peluang untuk dimuat masih tinggi terutama untuk media yang tak sebesar
Kompas.(2) Tanggapan Headline Media/Berita Utama juga bisa dijadikan
pijakan untuk menulis. Jangan lupa untuk mencatat nama
media/tanggal/bulan headlines yang kita kutip.
(3) Tanggapan Artikel Opini. Artikel opini dikenal juga dengan istilah
artikel OP-ED (singkatan dari opini-editorial). Umumnya artikel OP-ED
yang menanggapi artikel OP-ED lain berisi tambahan yang lebih lengkap
dari yang dibahas sebelumnya atau menentang artikel yang ditanggapi.
(4) Hari besar nasional/internasional adalah tulisan yang isinya
berkaitan dengan hari besar pada saat itu. Contoh, pada sekitar 21
Januari mendatang adalah Hari Raya Idul Adha. Siapkan sejak sekarang
tulisan yang berkaitan dengan hari idul adha. Dan kirimkan segera ke
media sebelum hari H.
Catatan: Umumnya kita mengirim tulisan yang berdasarkan tanggapan atas
Editorial atau Headlines pada media yang kita tanggapi. Contoh,
tanggapan Editorial/Headlines di Kompas hendaknya dikirim ke Kompas,
tidak ke media lain. Namun kalau tidak dimuat di media terkait, tak ada
salahnya dikirim ke media lain. Sedangkan untuk artikel OP-ED yang
berkaitan dengan hari besar nasional/internasional dapat dikirim ke
media mana saja.
Kalau Artikel Tidak DimuatUntuk Kompas dan Suara Pembaruan tulisan yang
tidak dimuat biasanya mendapat pemberitahuan dari redaksi. Sedangkan di
koran-koran lain tanpa pemberitahuan. Umumnya, kalau dalam waktu
seminggu tulisan tidak muncul, berarti tulisan kita tidak dimuat dan
bisa dikirim ke media/koran lain.
Jangan lupa, tulisan yang sama dapat dikirim ke dua media yang berbeda
asal tidak sama segmennya. Contoh, satu tulisan bisa saja dikirim ke
media nasional dan media daerah (tentu saja tidak sekaligus di-CC-kan
dalam satu email). Tapi jangan sekali-kali mengirim satu tulisan ke dua
media yang sama segmennya. Seperti pada dua media nasional atau dua
media daerah yang sama. Contoh, Kompas dan Republika (dua media
nasional) atau Waspada dan Harian SIB (media daerah Medan).
Dikutip dari berbagai sumber
REFERENSI PENGALAMAN TULIS-MENULIS CERPEN DAN LAIN-LAIN
AM for everyone
Kisah nyata kehidupan bisa dituangkan dalam berbagai bentuk karya seni,
baik bersifat verbal maupun visual. Hasilnya sebagaimana sering kita
temukan di berbagai dunia seni, misalnya seni lukis, fotografi, seni
audio visual, seperti sinetron, kisah nyata, karya sastra, biografi, dan
lainnya. Karya sastra banyak yang bersumber pada kisah nyata, bahkan
yang disusun berdasarkan kisah nyata menjadi biografi, riwayat hidup,
dan mungkin kisah perjuangan bangsa atau kehidupan seseorang.
Tidak hanya hal di atas yang bisa dirangkaiberdasarkan kisah nyata.
Cerpen juga bisa. Dan sebenarnya, ini bukan "barang baru". Sebab, nyaris
semua pengarang pernah menulis cerpen berdasarkan kisah nyata, baik itu
pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain atau kejadian tertentu
yang dilihat oleh si pengarang.
Lantas, kenapa harus dibahas di topik ini? Apa istimewanya?
Saya merasa perlu membahasnya, karena baru-baru ini saya membaca dua
cerpen dari dua orang teman yang diangkat dari sebuah kisah nyata.
Setelah saya baca, terus terang saya kecewa. Sebab cerpen tersebut sama
persis dengan cerita aslinya. Isi cerita, alur cerita, semuanya sama.
Yang berbeda hanya nama-nama tokoh dan settingnya. Selain itu, cerpennya
pun disampaikan dengan gaya yang biasa-biasa saja.
Sebenarnya, dalam mengangkat sebuah kisah nyata ke dalam cerpen, bagaimana teknis menulis yang baik?
Secara umum, tekniknya sama saja dengan teknik penulisan lainnya. Tapi
menurut saya, yang perlu diingat adalah: kisah nyata tersebut hanyalah
sebuah IDE. Sebagai ide, kita bebas mengembangkannya. Mau kita ubah
ceritanya, ditambahi, dikurangi, dan seterusnya, semua terserah kita.
Tak ada yang melarang. Toh kisah nyata itu bukan sebuah sejarah, hanya
peristiwa sehari-hari yang biasa.
Memang, bukan berarti kita tidak boleh membuat cerpen yang isinya sama
persis dengan kisah nyatanya. Ya boleh-boleh saja, dong. Yang saya
maksud pada topik ini adalah: Kita jangan sampai berpikir bahwa cerpen
yang kita tulis tidak boleh merubah sedikit pun kisah nyatanya. Sebab
sekali lagi, kisah nyata tersebut bukan sebuah sejarah.
Sekadar berbagi tips, berikut adalah contoh langkah-langkah yang bisa
kita lakukan dalam mengubah sebuah kisah nyata menjadi cerpen.
1. Carilah bagian dari kisah nyata itu yang kita anggap menarik. Bagian
yang kurang menarik, atau tidak menarik sama sekali, lupakan saja.
2. Galilah bagian yang menarik tersebut, lalu kembangkan ceritanya sesuai keinginan kita.
3. Kalau perlu, carilah sudut pandang yang unik, agar ceritanya menjadi lebih bagus.
Setelah itu, kita bisa langsung menulis cerpennya. Saat menulis ini,
kita sudah boleh membuang jauh-jauh si kisah nyata tersebut. Lupakan
saja. Toh kita sudah punya modal berupa ke-3 poin di atas.
Yang juga penting, jangan merasa "terbebani" oleh hal-hal yang melekat
pada kisah nyata tersebut, sebab kita bisa mengubah semuanya sesuka
kita. Sebagai contoh, si pelaku pada kisah nyata adalah seorang pria.
Ketika diubah jadi cerpen, jenis kelaminnya kita ubah jadi wanita. Atau,
kisah nyata ini terjadi di Jakarta, tapi pada cerpennya diubah menjadi
New York. Dan seterusnya. Ini semua boleh-boleh saja. Asalkan cerita
yang kita buat tetap logis (masuk akal) dan menarik.
Ok, semoga bermanfaat ya.
Tags: kiat_penulisan
Prev: Yang terselamatkan dalam Tragedi Mandala
Next: Duh... aku telah mengeksploitasi anakku!
reply share
View replies:Chronological Reverse Threaded
replyemprit wrote on Sep 12, '05kalo gitu caranya, kisah nyatanya jadi
hilang dong mas Jonru. ohya, kisah nyata saya pernah dijadikan cerpen
oleh seorang temen saya, pas dia merubah (maksudnya mau mengembangkan
mungkin) berbagai hal dalam kisah itu, eh saya sebagai si empunya kisah
nyata itu ko' jadi gimanaaa gitu mbacanya. agak aneh...
replyjonru wrote on Sep 12, '05emprit saidkalo gitu caranya, kisah
nyatanya jadi hilang dong mas Jonru. ohya, kisah nyata saya pernah
dijadikan cerpen oleh seorang temen saya, pas dia merubah (maksudnya mau
mengembangkan mungkin) berbagai hal dalam kisah itu, eh saya sebagai si
empunya kisah nyata itu ko' jadi gimanaaa gitu mbacanya. agak aneh...
Seperti yang saya sebutkan di atas, kisah nyata itu hanya sebagai IDE.
Dan sepanjang kisah nyata itu bukan sebuah sejarah (yang tidak boleh
diutak-atik seenaknya), maka pengarang bebas saja merubah sekehendak
dia. Soal kisah nyatanya jadi hilang, itu saya kira tidak masalah. Kalau
tidak mau hilang, jangan jadikan cerpen, tapi buku harian, atau
biografi, hehehe...Soal kisah nyata mbak afiyah yang dicerpenkan, saya
kira juga amat wajar jika mbak merasa aneh setelah membacanya. Berarti
si penulis berhasil meramu kisah nyata tersebut menjadi sebuah cerpen
yang berbeda. Tapi kalo misalnya mbak ingin agar bagian-bagian tertentu
tetap dipertahankan, boleh juga diberitahu pada penulisnya, agar dia
jangan sembarangan mengutak-atik.Maaf kalau tidak berkenan ya... :)
replyemprit wrote on Sep 13, '05jonru saidKalau tidak mau hilang, jangan
jadikan cerpen, tapi buku harian, atau biografi, hehehe... iya, betul
juga antum. heheheohya, berarti kalau ada film atau novel yang dikasih
embel2 'based on true story' itu idenya aja dong (aduh, padahal selama
ini saya kira sampei detail2nya juga true story, ketipuuuuuuuuuu:-))Tapi
kalo misalnya mbak ingin agar bagian-bagian tertentu tetap
dipertahankan, boleh juga diberitahu pada penulisnya, agar dia jangan
sembarangan mengutak-atikapakah ini berarti juga bahwa kita harus izin
dari empunya kisah jika mau menjadikan kisah nyatanya sebagai cerita,
meski hanya menjadi ide saja? siapa tahu setelah membaca nanti dia
merasa aneh kayak saya .. hehehe.
replyjonru wrote on Sep 13, '05emprit saidapakah ini berarti juga bahwa
kita harus izin dari empunya kisah jika mau menjadikan kisah nyatanya
sebagai cerita, meski hanya menjadi ide saja? siapa tahu setelah membaca
nanti dia merasa aneh kayak saya .. hehehe. kalo ini sih, menurut saya
relatif banget mbak. Sepanjang cerpennya itu enggak menyebabkan si
pemilik kisah jadi terbuka aibnya, tercoreng nama baiknya, dst, saya
kira enggak perlu minta ijin deh. Apalagi kalau di cerpennya tidak
disebutkan bahwa cerita ini diangkat dari kisah nyata, lantas semua nama
tokoh, lokasi, dst sudah diubah... tentu orang lain (termasuk si
pemilik kisah nyata) mungkin tidak tahu lagi bahwa cerpen tersebut
diangkat dari kisah nyata tertentu.Tapi khusus untuk kisah nyata yang
kejadiannya sudah menjadi milik publik (misalnya kasus tertukarnya bayi
yang terjadi beberapa tahun lalu, atau kasus seorang anak bernama arie
hanggara yang disiksa orang tuanya hingga mati, atau cerita sayekti dan
hanafi), saya kira perlu deh untuk minta ijin ke si pemilik kisah. Kalau
enggak, nanti kita dikira menjiplak, karena kisah nyata tersebut telah
diketahui oleh hampir semua orang.
replyemprit wrote on Sep 13, '05oooh gitu ya?! *sambil manggut-manggut*
wah trimakasih banyak nih mas Jonru, jazaakumulloh khoiron.
replyreincarbonated wrote on Sep 14, '05mungkin seharusnya bukan ditulis
"berdasarkan sebuah kisah nyata". cukup ditulis "diilhami oleh sebuah
kisah nyata".. inspired from a true story. gitu aja kali ya :)
replyjonru wrote on Sep 14, '05reincarbonated saidmungkin seharusnya
bukan ditulis "berdasarkan sebuah kisah nyata". cukup ditulis "diilhami
oleh sebuah kisah nyata".. inspired from a true story. gitu aja kali ya
:) wah.. bener jugathanks mas arya atas masukannya :)
replyemprit wrote on Sep 15, '05kalo yg di film2 dan ada embel2 'based
on true story' bukan 'inspired', gimana tuh? malah ada yang langsung
'true story' aja. (soalnya, saya tuh mendalami banget kalo lihat film
atao baca cerita, hehehe. apalagi kalo ada embel2 true story, uuh bisa
ngga' kedip nontonya)
replysondang27 wrote on Jul 26Kebanyakan cerpen yang saya tulis adalah
berdasarkan kisah nyata (pengalaman saya sendiri) dan memang ada
bagian-bagian tertentu yang saya tambahi supaya jalan cerita bisa
nyambung. Dan ada juga cerpen yang saya buat berdasarkan cerita yang
dikisahkan oleh teman saya mengenai temannya.Ketika saya mengarang
berdasarkan cerita tersebut saya mereka-reka bagaimana awal cerpen
kira-kira. Intinya adalah bahwa memang ada bagian tertentu dalam cerita
yang kita caplok dari kisah nyata. Tapi anehnya sekarang saya sepertinya
kehilangan ide dan semangat sama sekali dalam menulis cerpen setelah
hampir semua pengalaman saya yang saya anggap menarik telah saya
cerpenkan. Hampir satu setengah tahun berhenti sampai sekarang. Dulu
saya punya target dalam menulis yakni harus selesai tiga cerpen dalam
seminggu dan waktu menulis saya adalah setiap sabtu dan Minggu. Sekarang
satu cerpen pun tidak ada ...Apakah bang Jonru pernah mengalami apa
yang pernah saya alami? Bagaimana kira-kira cara mengatasinya?
Pengembaraan Seorang Laksana
Ditulis oleh I Kurniawan
Minggu, 30 Januari 2005
SUATU perjumpaan barangkali sebuah cerita yang baik dan buruk sekaligus.
Saat itu, di tahun 2000, aku untuk kesekian kalinya berjumpa dengan
A.S. Laksana. Lelaki kelahiran Semarang, 25 Desember 1968 itu kelak
dinobatkan sebagai tokoh tahun 2004 bidang sastra oleh majalah Tempo.
Untuk pertama kalinya Laksana terkena "demam" bikin situs web setelah
menyaksikan aku mendemonstrasikan cara mudah membuat sebuah halaman
situs. Sejak itu, lelaki yang semula gagap memegang mouse itu lantas
berenang-renang dengan suka citanya di dunia teknologi informasi, bahkan
berani membangun situs pertamanya, Akubaca.com. Komputernya dipasang
bermacam-macam aplikasi. Sebagian tak jalan.
Sampai suatu ketika muncul pop up di layar monitornya dengan pilihan
"yes" atau "no". Bila "no" maka komputernya ngadat, bila "yes" maka hard
disk-nya diformat ulang. Tak ada pilihan lain bagi "programer" amatiran
itu kecuali memejamkan mata lalu menekan tombol "yes", dan musnahlah
sudah isi komputernya, termasuk sebagian naskah bakal novel Medan
Perang. Tapi, ia kini bersahabat baik dengan komputer. Ketika kawannya,
Yayan Sopyan, mempromosikan pembuatan lagu dengan aplikasi ModPlug
Tracker, Laksana pun tak gagap lagi bermain-main dengan aplikasi itu.
Ketika saya bersua dengannya kembali pada Rabu (19/1) lalu, Laksana
mengajak saya menengok ruang kerjanya di lantai dua sebuah rumah di
Jalan Jambu Nomor 22A, Kampung Utan, Ciputat, tak jauh dari Universitas
Islam Negeri (UIN) Jakarta. Separuh ruangan itu dipenuhi kardus-kardus
berisi buku-buku. Sebagian kecil buku memadati dua rak di dinding.
Kebanyakan karya asing. Terlihat The Name of the Rose Umberto Eco, The
Book of Black Magic Arthur Edward Waite, The World of Language Donald
Merryman, Kamus Pepak Basa Jawa Sudaryanto dan Pranowo, dan kumpulan
haiku Jepang Salad Anniversary Machi Tawara, Sejumlah karya sastra
Indonesia berderet di satu tingkat rak.
Dua kamus Lexicon Webster Dictionary setebal bantal bersandar di salah
satu rak dan setumpuk lengkap buku petualangan Karl May terbitan Pradnya
Paramita di tingkat atasnya. Udara ruangan itu tak cukup segar. Tak ada
jendela dan pengatur udara. Tiga komputer tua teronggok di salah satu
sisi ruang. Sebuah komputer yang terlihat lebih baru dengan pelindung
yang terbuka bercokol di sebuah meja yang tak seberapa besar. Itulah
meja kerja Laksana. Di komputer itulah karya-karyanya tersimpan,
termasuk beberapa biji lagu ciptaannya yang dengan bangga dipamerkannya
malam itu. * * * * AKU TERLAHIR dengan nama...., ah aku rasa cukup kau
mengenalku dengan nama A.S. Laksana saja. Akte kelahiranku telah hilang
saat Semarang dilanda banjir, termasuk dokumen-dokumen lainnya. Jadi,
cukuplah panggil aku Sulak saja, sebagaimana teman-temanku memanggilku.
Wartawan Koran Tempo itu mendesakku menyebut nama lengkapku. Tapi, aku
enggan. Aku bilang, ada satu rahasia yang kadang ingin orang simpan dan
aku ingin menyimpan rahasia itu.
Sedari kecil aku suka menulis puisi dan cerpen yang kujilid rapi menjadi
sebuah buku yang dihiasi vignet. Kalau kau bertanya, dari mana darah
kepenulisanku, barangkali aku bisa sebut dari kakekku di garis ibu.
Kakekku, Mbah Sumo, punya sebuah peti besar yang hanya boleh dibuka
setelah dia meninggal. Ketika dibuka, ternyata isinya setumpuk catatan
harian yang sangat rinci. Di situ tercatat, misalkan, bakal kakakku yang
meninggal karena ibuku keguguran saat mengandungnya. Seperti kakek, aku
suka menulis buku harian. Ada beberapa buku yang kutulis, tapi semuanya
hilang entah ke mana. Beberapa kali buku harianku dibaca orang, aduh,
rasanya malu sekali, seperti diri ini ditelanjangi. Aku juga senang
mengeksplorasi segala hal. Barangkali karena darah bapak mengalir
padaku. Bapakku, Karyono, adalah seorang timer bus kota Damri di
Semarang. Tapi, ia pandai bertukang dan suka bereksperimen di waktu
senggangnya. Dia, misalkan, pernah bikin minyak rambut dan mercon. Waktu
SD aku sering mengirim tulisan ke majalah anak-anak di kotaku, tapi tak
pernah dimuat.
Semasa di SMA aku suka menulis puisi dan teman-temanku menganggap aku
penyair dan jadi rujukan dalam pelajaran bahasa Indonesia. Setidaknya,
pengalamanku dalam membaca lebih banyak ketimbang teman-teman, karena
sejak SD aku membaca Horison yang kudapat di loakan meski tidak paham.
Aku membaca cerpen Budi Darma dan tulisan-tulisan lain dengan alot
sekali. Tidak aku pahami, tapi nikmat. Rasanya seperti tersesat-sesat
tapi mengasyikkan. Tapi, ada juga yang bisa kupahami, seperti timbangan
buku. Dari sana aku mengerti soal puisi dan bagaimana membaca puisi yang
baik. Tapi, saat aku membaca puisi di depan kelas, suaraku tak keluar.
Sang penyair ini pun akhirnya dapat nilai 6 untuk bahasa Indonesia.
Aku pernah berbuat usil waktu Kelas II SMA. Suatu kali ada tugas membuat
cerpen. Aku lantas menyalin sebuah cerpen Danarto. Kau tahu, berapa
nilaiku? Enam, Bung. Jadi, cerpen Danarto itu nilainya cuma enam. Tapi,
waktu Kelas II SMA, satu cerpenku, "Suara-suara", dimuat di harian
Kartika yang kantornya persis terletak di sebelah sekolahku. Aku lupa
bagaimana isinya. Yang kuingat cerpen itu berkisah tentang seorang janda
muda dan sangat melodramatis. Naskahnya aku sudah tak punya lagi.
Memang, pengarsipanku buruk sekali. Buku kumpulan cerpen Bidadari yang
Mengembara (KataKita, Mei 2004) berhasil diterbitkan dengan mengumpulkan
naskah-naskah itu dengan susah payah. Karena berpuisi tak bersuara, aku
memutuskan ikut teater SMA. Maunya sih biar bisa tampil dengan penuh
percaya diri. Tapi, aku keluar setelah ikut 3 kali latihan. Tapi, dari
teater setidaknya aku mengenal yang namanya timing dan soal dramaturgi
lainnya yang berguna ketika nantinya aku menulis cerpen. Setelah itu aku
masuk Jurusan Bahasa Indonesia IKIP Semarang pada 1987.
Orang tuaku jengkel, mereka ingin aku jadi arsitek. Tapi, aku ingin jadi
guru bahasa Indonesia. Gagasan jadi guru itu ceritanya begini. Dulu
ibuku, Susiati, berdagang di pasar. Setiap hari ia beli kertas
pembungkus dari koran, buku, dan majalah. Di antara tumpukan kertas itu
aku menemukan majalah penggemar buku yang memuat wawancara dengan Romo
Mangunwijaya tentang pendidikan. Nah, Romo Mangun bilang, salah satu
persoalan pendidikan di Indonesia adalah tidak mengajarkan cara orang
berkomunikasi, cara berbicara, cara menulis. Juga aku mendengar
bagaimana sekolah-sekolah di luar negeri mengajarkan orang mengarang
dari kecil. Jadi, sebenarnya aku ingin jadi guru mengarang, tapi karena
tak ada pelajaran mengarang, yang ada pelajaran bahasa Indonesia, maka
aku ingin jadi guru bahasa Indonesia. Tapi, setelah mengikuti beberapa
kuliah di IKIP, aku pikir tak mungkin jadi guru yang baik di situ. Lalu
orientasiku agak berubah. Aku ingin jadi wartawan, padahal maksudnya
ingin jadi sastrawan.
Untuk jadi wartawan aku masuk Jurusan Komunikasi Fisipol UGM Yogyakarta
pada 1988. Kuliah beneran yang kutempuh cuma 2 tahun. Setelah itu nggak
keruan, aku mengembara ke mana-mana. Aku selalu diganggu keinginan untuk
menulis. Beragam artikel kutulis. Aku menulis cerpen lagi pada 1992
yang dimuat di Kompas dan Jawa Pos. Aku tak ingat judulnya apa. Pada
Januari 1993 aku hijrah ke Jakarta dan bikin Gorong Gorong Budaya
bersama Hasif Amini, Yosrizal, Sitok Srengenge dan Najib Azca. Aku juga
turut mendirikan tabloid DeTIK hingga akhirnya dibredel pada 1994. Di
media itu aku menulis kolom di rubrik "Podium" yang kemudian diterbitkan
sebagai Podium DeTIK (1995). Kemudian krisis melanda Indonesia. Setelah
itu aku sempat kembali aktif sebagai wartawan di tabloid Detak hingga
akhirnya keluar dan mendirikan Yayasan Akubaca yang bergerak di bidang
penerbitan pada 2000.
Penerbitan ini lahir dari gagasan bahwa penyerapan sastra dunia hanya
mungkin dilakukan dengan strategi Jepang: penerjemahan besar-besaran.
Sejumlah karya sastra dunia, seperti karya Milan Kundera dan Jumpha
Lahiri, berhasil kuterbitkan. Bila ke toko buku aku selalu mencari dan
membeli buku-buku novel, cara berpikir, dan manajemen. Dua jenis buku
pertama cukup berhasil kupahami. Tapi, jenis buku terakhir itu tak
pernah mampu kupahami. Tampaknya itulah alasan mengapa Akubaca akhirnya
bangkrut dan ditutup pada 2003. Tapi, kau tahu, aku tetap ingin menjadi
guru. Maka, tahun lalu, bersama beberapa teman aku mendirikan Jakarta
School, sebuah sekolah yang mengadakan kursus penulisan kreatif. Sekolah
kami telah berjalan dan kini aku, Yayan Sopyan dan Agung Bawantara
menjadi guru di enam kelas. * * * * * LAPAR pada akhirnya menyerangku.
Saat itu aku duduk di toko buku Rumahtom di lantai II Wisma Usaha UIN
Jakarta, Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat.
Toko seukuran kamar kos mahasiswa itu sepi-sepi saja sore itu. Toko itu
satu atap dengan Jakarta School, sekolah asuhan Laksana. Di depanku,
Laksana yang hari itu berkemeja batik cokelat muda lengan pendek dan
bercelana jins biru duduk santai sambil menikmati sebatang rokok Gudang
Garam Merah di bibirnya. Rambutnya yang gondrong diikat di belakang. Aku
mengajak dia makan. Waktu yang tak tepat sebenarnya, karena jam masih
menunjukkan pukul 17.00 WIB. Tapi, dia mengangguk dan kami pun menuju ke
Bakmi Yogya di belakang kampus UIN Jakarta. Di warung itu tak banyak
pilihan yang tersedia, maka jadilah kami berdua memesan nasi ruwet
daging ayam dan es teh manis. Warung itu sepi, padahal suasana cukup
nyaman dan teduh untuk suatu rendezvous.
"Berapa lama kau menulis cerpen? Kau penulis cepat apa penulis lambat?"
tanyaku sambil menyeruput es teh. "Ada yang semalam jadi seperti
'Telepon dari Ibu'. 'Menggambar Ayah' tujuh tahun. Kalau dari
inspirasinya lebih lama lagi, karena aku pertama kali melihat orang
menulis grafiti di tembok itu waktu SMA. Lalu, waktu 1990-an aku membaca
berita seorang artis mengumumkan diri akan menjadi ibu tunggal, aku
terdorong untuk menggambarkan anak kecil yang menanyakan soal bapaknya."
"Soal sumber ilham penulisan cerpen di Bidadari yang Mengembara ini apa
saja?" "'Cerita tentang Ibu yang Dikerat' itu sisa gagasan yang tak
tertampung ketika menulis cerita bersambung (Medan Perang) di Koran
Tempo. Sedangkan soal banci dalam 'Bangkai Anjing' karena aku pernah
ketemu sopir truk banci saat masih kecil dan suka menumpang truk saat
liburan akhir pekan. Sedangkan 'Seorang Ibu yang Menunggu' itu ditulis
habis menonton film Rob Roy dan aku ingin memasukkan pertanyaan anak
kecil di film itu, 'Dari mana bayi keluar?'.
Menulis cerpen ini agak cepat menulisnya. Sama seperti 'Telepon dari
Ibu'. Yang terakhir ini aku tulis ketika aku mendapat surat dari temanku
di luar negeri. Dia menulis tentang betapa dinginnya di sana. Coba kamu
bayangkan, katanya, bila ada di puncak Gunung Bromo tanpa sehelai
benang pun. Nah, aku ingin memasukkan kalimat itu. Cerpen ini kutulis
dalam semalam langsung jadi." "Di cerpen-cerpenmu sepertinya kamu
terobsesi dengan figur bapak. Ada bapak yang dibenci, ada yang dicintai.
Sebenarnya hubunganmu dengan bapakmu normal nggak sih?" "Normal,"
katanya. Lantas, buru-buru menambahkan, "Tapi, kan galak sekali. Waktu
kecil, bapakku galak sekali, mungkin karena aku nakal. Aku pernah
dilempar ke sungai ketika aku nawu (membendung sungai untuk menangkap
ikan)." Aku tertawa. "Tapi," ia melanjutkan, "Orangtua memang seringkali
menjengkelkan. Pada saat anak lelaki puber, misalnya, dia dibiarkan
sendiri, nggak pernah diurus orangtuanya.
Tiba-tiba tegang sendiri begitu, orangtuanya nggak pernah ngajak ngobrol
kek atau ngasih pemahaman tentang itu. Tabu seperti itu. Jangan-jangan
memang iya, orangtua itu kadangkala menjengkelkan. Aku tersenyum. "Tapi,
nggak sampai membuat dendam sehingga kau ingin membunuhnya, kan?"
kataku. "Oh, nggak. Dia baik kok," jawab Laksana mantap. "Soalnya, Bung,
karakter tokoh-tokohmu kebanyakan begitu membenci sosok ayah. Maksudku,
orang yang tak mengenal kamu bisa menduga kamu membenci bapakmu. Coba,
dalam 'Rumah Unggas' itu, misalnya, si Seto mengganti minuman ayahnya
dengan air yang diambil dari ceruk kakus. Kan, kejam amat itu anak. Kau
bertanggung jawab kalau ada anak-anak yang ikut-ikutan menggunakan
metode itu, lho," kataku bercanda. Laksana tertawa lebar, kumisnya
berkibar-kibar. "Tapi, bapak harus waspada juga, dong," katanya.
Perbicangan kami berlangsung cukup lama. Adzan Magrib terdengar cukup
jelas dari sebuah masjid.
Tak lama kemudian, dua pasang anak muda yang tampak masih mahasiswa
masuk ke warung itu dan duduk di lesehan yang tak jauh dari kami. Aku
menengok mereka sebentar lalu kembali ke Laksana yang menghentikan
makannya yang baru habis separuh dan mulai membakar rokoknya. Dia
perokok berat, sehari bisa habis tiga bungkus rokok. "Sebenarnya menulis
cerpen itu menurutmu bagaimana sih? Menceritakan sisi-sisi kemanusiaan
atau apa?" tanyaku. Dia diam sejenak. Ada jeda yang kadangkala cukup
panjang bila berbincang-bincang dengan Laksana. Akhirnya dia menjawab:
"Sebetulnya karena aku ini bisa dipercaya teman-teman karena aku
dianggap bisa pegang rahasia.
Menyimpan rahasia itu kan sulit, tapi membongkar rahasia juga buruk.
Cuma, harus ada sesuatu untuk dilakukan untuk menguras itu, yakni
cerpen. Cerpen-cerpenku pasti campuran dari berbagai karakter, sudah tak
bisa dideteksi dari mana. Mungkin suatu ketika ada yang seperti
diomongin orang ini, mungkin kalau temanku baca bagian itu ia ingat, o,
ini yang kuceritakan waktu itu. Ada juga dari bacaan." "Dalam
cerpen-cerpenmu ada banyak subplot. Kadang kau menawarkan ke pembaca
untuk membatalkan sebagian plot yang sudah terbangun. Apa ini semacam
strategi berceritamu?" tanyaku sambil membereskan piringku yang sudah
tandas. "Awal menulis, ketika masih SMA, yang mudah kupahami
cerita-cerita konvensional yang menawarkan keasyikan alur, plot.
Lama-lama, apa hanya begini cara membuat cerita? Karena, ludruk itu bisa
tiba-tiba ada senggakan (berdiskusi dengan penonton). Kan bisa. Dulu,
ada tetanggaku orang tua yang umurnya sudah seratus tahun lebih.
Dia suka mendongengi anak-anak dengan jeda beberapa kali yang diisi
nasihat-nasihat. Nah, ada cara bercerita seperti itu dan tetap
menyenangkan. Maka, dalam tulisan mestinya bisa. Narator itu dalam
cerpen mungkin bisa ikut campur." "Kau punya hambatan dalam menggunakan
bahasa Indonesia dalam menulis?" tanyaku. Aku ingin jadi guru bahasa
Indonesia itu sebetulnya karena sedih dengan bahasa Indonesia. Pada
pemakaian bahasa Indonesia yang tidak berkembang-berkembang. Di
mana-mana orang berbahasa Jakarta sekarang, yang menurutku tak bisa
untuk berpikir, menyampaikan sesuatu.
Misalnya, 'pokoknya gimana gitu'. Itu kan malas. Kalau untuk
menyampaikan perasaan saja sulit, apa tidak kesulitan sekali untuk
berpikir ilmiah kalau begitu? Makanya, kita harus berterima kasih sekali
kepada orang-orang seperti Gunawan Mohamad yang masih terus menggali
bahasa Indonesia sampai ke kemungkinan terbaik yang bisa dilakukan."
"Ngomong-ngomong, sebenarnya siapa orang atau pengarang yang paling kau
kagumi?" tanyaku. Ini pertanyaan iseng sebenarnya, tapi jawabannya tak
terduga. "Mohammad Ali yang petinju itu," jawabnya. "Dia orang yang
sangat mengerti plot. Tinjunya menjadi sebuah tontonan yang menarik. Dia
menulis puisi, dia ramalkan, kamu kupukul jatuh pada ronde kedelapan
atau berapa begitu. Itu kan sudah membuat pembukaan yang sedap. Orang
jadi ingin tahu, betul tidak bahwa pada ronde itu dia bisa menjatuhkan
lawannya.
Lawannya jadi dihantui oleh ronde kedelapan itu. Di situ konsentrasinya
buyar. Nah, di situ Ali jadi karakter utama. Jadi protagonis." "Tapi,
dia pandai membuat plot yang sangat bagus. Ketika kawannya kepayahan,
sebetulnya dia bisa jatuhkan, tapi kadang dia tidak jatuhkan, dia hanya
elus-elus kepalanya. Dari bukunya yang kubaca, The Greatest, karena
penonton itu bayar. Ketika aku belajar tentang plot, aku melihat Ali
adalah pembuat plot yang baik." "Tapi, mengarang itu kan tidak cuma
plot. Ada dialog. Soal dialog, aku pelajari dari ketangkasan Hemingway.
Tentang tema, aku temukan pada Dataran Tortilla-nya Steinbeck. Dia bisa
melukiskan kemelaratan dengan kegembiraan.
Tidak melodramatis, tapi gembira sekali. Lalu ketemu Prajurit
Schweik-nya Jaroslav Hasek. Ada kecerdasan yang tak disangka-sangka dari
keluguan. Belakangan aku bertemu banyak hal, seperti Il Postino Antonio
Skarmeta. Ternyata, sesuatu yang tidak disampaikan secara ruwet itu
menyenangkan. Bahwa sastra itu seharusnya tidak ruwet, sesuatu yang
menggembirakan." "Setelah bikin Akubaca, Jakarta School dan setumpuk
cerpen kau mau apa lagi?" tanyaku. "Menang Nobel," jawabnya. "Iya, tapi
mau bikin apa supaya menang Nobel," desakku. "Karya sastra yang baik.
Apa lagi?" jawabnya lalu tertawa. Dia mengeluh bahwa kadang orang ingin
melakukan eksperimen, "Tapi, tak ada yang mau membiayai." Telepon
genggamnya berdering. Dia menerima telepon dari seseorang. Rupanya
bapaknya yang menanyakan apakah Ciputat banjir karena ia menonton berita
di televisi yang mengabarkan banjir di Jakarta. Hitam sudah melumuri
langit Jakarta. Laksana mengajakku menjenguk ruang kerjanya di rumahnya
yang letaknya tak jauh dari situ. Kami pun berkemas, lalu berangkat
dengan berboncengan di sepeda motornya.
(dikutip dari rubrik Penganrang Ruang Baca Koran Tempo, edisi 30 Januari 2005)
Mulai Dari Menulis
Ditulis oleh Nila Zaidan
Rabu, 02 Maret 2005
Saat duduk di sekolah dasar beberapa puluh tahun lalu hampir seluruh
teman-teman di kelas saya paling jengkel saat guru kelas mulai berkata:
Sekarang waktunya pelajaran mengarang! Belum selesai Pak Guru bicara,
serempak mulut teman-teman berbunyi yaaaaahh.Apa gunanya belajar
mengarang? "Enggak penting! Aku ingin jadi astronot," bisik Elita, si
juara kelas. "Iya, aku mau jadi ahli keuangan, buat apa belajar
mengarang?" balas Susilo. Bla, bla, bla, bla....Ingatan masa kecil dulu
tebersit kembali mendengar seorang teman menyarankan kepada saya untuk
belajar creative writing,saat saya curhat bahwa rasanya pekerjaan dan
otak saya sedang stuck, mentok. Bagaimana karier mau bagus kalau
sedikitsedikit otak saya stuck, enggak tahu mau berinovasi apa,
ruwet!Belajar menulis? Apa hubungannya?
Kembali pertanyaan yang sama dengan teman-teman saya puluhan tahun lalu
muncul.Itulah asal muasal kenapa saat ini saya belajar menulis di
Jakarta School, Creative learning Center, sebuah sekolah yang dibidani
oleh AS laksana, Yayan Sopyan, dan Agung Bawantara yang mengadakan
kursus penulisan kreatif dari menulis novel, biografi, skenario, dan
buku panduan lainnya.Pasti ada yang bertanya-tanya kenapa hanya karena
ingin sukses dalam karier saya jadi belajar menulis. Jawabannya karena
dengan menulis saya bisa membenahi pikiran dan menata perencanaan apa
yang akan saya lakukan dengan lebih runtut serta berpikir lebih kreatif.
Dengan belajar menulis saya juga bisa berpikir lebih cepat, lebih
logis, lebih fokus atau lebih kreatif. Atau saya juga bisa menghilangkan
keruwetan berpikir dengan belajar menulis.
Tangan dan Otak Seperti yang saya kutip dari tulisan AS Laksana bahwa
ketika kita menulis, tangan kita melakukan sesuatu. Jika toh Anda bukan
seorang penulis atau Anda tidak ingin menjadi penulis, menulislah.
Akrabkan tangan Anda dengan otak Anda. Sebab apa yang ditulis oleh
tangan Anda adalah langkah pertama yang akan mewujudkan apa yang ada di
kepala Anda. "Jika Albert Einstein tidak bisa menulis, teori relativitas
tak akan tercipta sebab tak akan ada yang paham teori tersebut jika tak
bisa dikomunikasikan. Einstein bukan penulis tetapi ia sudah menulis
lebih dari 2.000 makalah. Dengan menulis ia menuangkan segala
kemungkinan yang kemudian melahirkan teori-teori besarnya," jelas Sulak,
panggilan akrab AS Laksana.Pendapat Sulak ini didasarkan pada
keyakinannya bahwa kita perlu mendekatkan tangan dengan otak, itulah
kunci kreativitas.
Otak merancang sesuatu dan tangan mengerjakannya. "Ketika Anda menulis,
otak Anda merekam dengan baik setiap gagasan dan dengan demikian Anda
tak mudah sesat dan tak akan kehilangan ilham," imbuhnya.Jadi menekuni
disiplin ilmu apa pun, kita perlu menulis agar otak makin terasah, agar
tak kehilangan jejak alas segala yang telah kita pelajari.Yayan Sopyan
bahkan mengatakan begini: "Jangan percaya apa yang ada dalam pikiran
Anda sebelum Anda tuliskan. Menulis itu merupakan cara, media untuk jadi
apa pun," ujar Yayan. Ditambahkan oleh Agung bahwa orang tak akan punya
karier bagus jika bicaranya abstrak. Dengan menulis kita melatih
mengkonkretkan apa yang dipikirkan, membenahi pikiran.
"Posisikan anda sebagai sepatu ..."Dalam setiap sesi, ketiga pengasuh
belajar menulis itu selalu menyelipkan bagaimana caranya membenahi
pikiran, berpikir kreatif. terencana, dan runtut seperti membiJat
outline. Saya pikir-pikir kok iya ya, dalam bentuk yang paling sederhana
pun semua orang harus punya outline.Tentu saja apa yang mereka ajarkan
menjadi dasar untuk orang-orang yang berencana menjadi penulis. Bahkan
ketika orang tak berniat jadi penulis dan ingin mengembangkan sektor
lain, dia bisa merumuskan apa yang ada di kepalanya dalam tulisan yang
mudah dipahami.Yang tak kalah menarik adalah mereka mengajarkan juga
bagaimana pentingnya berpikir dengan sudut pandang yang berbeda.
"Untuk membuat terobosan baru atau inovasi lainnya, penting sekali
berpikir dari sudut pandang berbeda. Posisikan Anda sebagai sepatu yang
tiap hari ke kantor," kata Yayan. Jadi sepatu? liiih, jijik!, batin
saya. Tapi itu perlu dipikirkan, katanya lagi.Atau pelajaran lain
bagaimana saya berpikir "mengawinkan suami saya dengan kursi", misalnya.
Wah, kepala saya benarbenar diberi pencerahan! Saya jadi semakin
tertarik. Tak hanya karena kekreatifan berpikir yang saya dapatkan tapi
juga saya diajarkan teknik berpikir lainnya.Misal saja teknik menemukan
gagasan, teknik mengembangkan gagasan, merumuskan gagasan, membuat
sistematika, berpikir sistematis, teknik deskripsi, teknik komunikasi,
riset dan sebagainya. Tak hanya teori, dipraktikkan juga pelajaran
seperti freewriting, brainstorming, dan clustering.Selain itu, mereka
mengajarkan teknik ke luar dari kebuntuan menulis dan berpikir atau
writer's block.
Ini yang paling sering saya alami. Ternyata belajar menulis tak hanya
untuk penulis, kan? Sekali lagi otak saya serasa diberi pencerahan
bagaimana meningkatkan karier saya agar sukses. Saya jadi teringat lagi
kepada teman SD saya Elita dan Susilo yang jengkel dengan pelajaran
menulis. Ingin sekali saya kembali ke masa lalu dan berkata: "Elita jadi
astronot sukses itu harus berpikir..., Susilo jadi ahli keuangan sukses
itu harus berpikir... dengan belajar menulis kita jadi terbiasa
berpikir... bla-bla-bla.(Disalin dari majalah Her World Indonesia edisi Maret 2005, halaman 190 - 191)
Apa Saja yang Bisa Anda Tulis?
Ditulis oleh AS.Laksana
Selasa, 01 Maret 2005
Bagaimana tanggapan alamiah anda atas sebuah pertanyaan? Memberikan
jawaban tentu saja. Sebuah pertanyaan menghendaki jawaban. Makin menarik
atau tidak lazim sebuah pertanyaan, makin kuat keinginan kita untuk
mendapatkan jawabannya.Sebagai seorang penulis, ketika anda memasukkan
pertanyaan-pertanyaan dalam tulisan anda, itu akan mempertemukan anda
dengan pembaca anda dan berkali-kali terbukti bisa memancing pembaca ke
arah yang anda inginkan. Sederet pertanyaan bisa juga melahirkan topik
untuk tulisan mendatang jika anda tak tahu harus menulis apa.
Anda hanya perlu menulis pertanyaan, dan tidak usah terlalu bernafsu
untuk membuat pertanyaan-pertanyaan yang unik atau luar biasa.
Pertanyaan yang biasa-biasa saja sering menjadi awal bagi sebuah novel
atau karangan yang baik.Cobalah membuat cerita berangkat dari pertanyaan
ini:· Apakah itu anjingmu? · Di mana kamu kemarin? · Kenapa kau merasa
perlu menemuiku? · Apakah itu? · Siapa kamu? · Kapan kita minggat dari
tempat ini?Pertanyaan-pertanyaan di atas sangat sederhana, namun
kesemuanya memiliki membuka kemungkinan yang tak terbatas.Untuk
non-fiksi, membuat kalimat tanya sebagai judul atau mengawali tulisan
dengan pertanyaan merupakan teknik umum untuk mengikat perhatian pembaca
majalah. Perlu bukti? Periksalah tulisan-tulisan di majalah anda.· Apa
yang kau bisikkan, Theo? · Pencalonan Sutiyoso tak lepas dari andilnya
membujuk Megawati. Apa saja “dosa-dosanya”? · Agus Dwikarna dari
Indonesia divonis 10 tahun penjara. Korban kampanye anti-teror?Benarkah
Pertamina bisa rugi puluhan miliar? · Masih ingat lahan gambut sejuta
hektare? · Kapankah matahari tenggelam?(Beberapa pertanyaan pembuka
berita di majalah Tempo)Dalam bukunya yang berjudul "How to Think Like
Leonardo da Vinci", Michael Gelb menulis begini: “buatlah seratus
pertanyaan yang penting bagi anda. Anda bisa memasukkan berbagai jenis
pertanyaan sepanjang anda anggap itu penting…”Gunakan aturan-aturan
praktek menulis, dan kembangkan daftar pertanyaan ini dalam satu
setting. Tulis cepat, jangan ragu, jangan menyensor diri sendiri.
Bebaskan diri anda untuk menulis apa saja.Selanjutnya, buatlah daftar
pertanyaan. Pertanyaan manakah yang memiliki energi ketika anda baca?
Tandailah pertanyaan-pertanyaan yang berdekatan. Garis bawahi. Tulislah
satu jawaban untuk sejumlah pertanyaan yang berdekatan tadi. Seratus
pertanyaan yang baik akan menghasilkan setidaknya 20 topik yang menarik
untuk anda gali lebih dalam, lebih lebar, lebih luas.
Mendekatkan Tangan dengan Otak
Ditulis oleh AS Laksana
Minggu, 19 September 2004
Soalnya begini: anda perlu mendekatkan tangan anda dengan otak anda.
Ituah kunci kreativitas. Tangan kita adalah alat tubuh yang begitu dekat
hubungannya dengan isi kepala kita. Otak kita merancang sesuatu, dan
tangan kita yang mengerjakannya. Seorang petani berpikir bagaimana
mengolah tanahnya, dan tangannyalah yang mengerjakan semua yang dia
pikirkan. Tangan itu menggenggam gagang cangkul dan mengayunkannya.
Tanganlah yang menggemburkan tanah dan menyiramkan rabuk agar tanah yang
keras menjadi subur. Tanganlah yang mengguyurkan air ke tanaman di
dalam pot. Seorang pemburu, dari zaman kapan pun, berangkat dari rumah
dengan pikiran untuk memperoleh buruan sebanyak mungkin.
Tangannyalah yang merentangkan busur, melepaskan anak panah, atau
menembakkan pelor ke arah sasaran. Jika lapar, anda punya gagasan untuk
segera mendapatkan makanan, dan tangan andalah yang menyuapkan nasi ke
mulut.Karena itu, beri kesempatan kepada tangan anda untuk melakukan apa
yang memang menjadi kesukaannya. Jangan membiarkannya menjadi
penganggur. Kasihan ia. Beri ia pena, beri ia kesempatan menekan tuts
mesin ketik atau keyboard komputer anda, biarkan ia menjalin kerjasama
dengan otak, kawan karibnya. Seorang penulis -saya tak ingat namanya-
menyatakan, kira-kira begini:"Tulis apa saja yang ada dalam pikiran
anda, dan segala yang berkecamuk di dalam pikiran itu akan menemukan
jalan keluar.
" Ketika kita menulis, katanya, "tangan kita melakukan sesuatu."Jika toh
anda bukan seorang penulis, atau tidak ingin menjadi penulis,
menulislah. Akrabkan tangan anda dengan otak anda. Sebab, apa yang
ditulis oleh tangan anda adalah langkah pertama yang akan mewujudkan apa
yang ada di kepala anda. Albert Einstein, ilmuwan yang namanya paling
dikenal sepanjang abad kedua puluh, tidak pernah kita kenal sebagai
seorang penulis. Namun sepanjang hidupnya ia telah menulis tidak kurang
dari 2.000 makalah. Dan dengan menulis itu ia menuangkan segala
kemungkinan yang kemudian melahirkan teori-teori besarnya.
Orang lain lagi, Muhammad Ali, petinju kelas berat yang paling memukau,
juga selalu menulis dan membacakan puisinya untuk. mengejek calon lawan
sebelum pertandingan. Biasanya ia meramalkan, dengan cara jenaka, pada
ronde keberapa lawannya akan dijatuhkan.Ketika anda menulis, otak anda
merekam dengan baik setiap gagasan anda dan dengan demikian anda tak
mudah sesat dan tak akan kehilangan ilham. Menekuni disiplin ilmu apa
pun, anda perlu menulis agar otak anda makin terasah, agar anda tak
kehilangan jejak atas segala yang telah anda pelajari.
Menulis dan Berpikir Secara Lebih Baik
Ditulis oleh AS Laksana
Minggu, 19 September 2004
Apakah anda ingin bisa berpikir lebih cepat, lebih logis, atau lebih
kreatif? Bagaimana caranya agar daya pikir lebih kuat dan bisa lebih
fokus? Apakah anda ingin menghilangkan keruwetan berpikir? Apakah anda
ingin bisa lebih tahan berpikir dan berkonstrasi lebih lama? Baca cerita
di bawah ini. Anggaplah diri anda seorang astronot dan secara tak
terduga pesawat ruang angkasa anda keluar dari orbitnya. Anda mengarungi
kegelapan ruang angkasa dan akhirnya mendarat di sebuah planet bernama
BLOK. Sementara stasiun di bumi mengirimkan sekoci ruang angkasa untuk
menyelamatkan anda, anda mengisi waktu dengan melihat-lihat sekeliling
anda. Apa yang anda jumpai sungguh mencengangkan.
Makhluk-makhluk di planet BLOK, yang menyebut diri mereka Chip, semuanya
merupakan pemikir yang buruk. Segala sesuatu yang mereka lakukan selalu
berantakan. Segala yang mereka bangun selalu rubuh kembali. Hanyalah
keajaiban yang membuat mereka tetap bertahan. Mereka tidak mampu
memahami apa pun.Anda tidak tahu apakah stasiun di bumi akan bisa
menemukan anda atau tidak, namun -di luar urusan dengan stasiun itu-
anda tergerak untuk membuat daftar kekeliruan yang dilakukan oleh para
Chip dalam proses berpikir. Siapa tahu daftar anda ini kelak akan
berguna bagi penduduk bumi agar planet yang kita huni ini selamat dari
kebobrokan sebagaimana yang terjadi di planet B LOK.Mungkin inilah isi
catatan anda:Mengapa Kaum Chip Mengalami Kemunduran· Kaum Chip selalu
tergesa-gesa. · Mereka tidak pernah merancang tujuan. · Mereka tidak
pernah mengajukan pertanyaan. · Mereka abai terhadap fakta-fakta. ·
Mereka selalu percaya pada apa saja yang mereka baca · Mereka adalah
manusia massa, sebuah gerombolan yang selalu ubyang-ubyung. · Mereka
terpaku pada reaksi emosional sesaat; mereka selalu bercakap dalam
bahasa klise dan berpikir dalam bahasa slogan. · Mereka tidak pernah
menarik hubungan antara apa yang telah mereka pelajari dan hal-hal
lainnya. · Mereka tidak pernah risau pada cara mereka berpikir. · Mereka
tak pernah menulis sama sekali.Apakah sebuah keanehan jika Planet BLOK
adalah sarang keruwetan? Jika anda bisa mencapai bumi, jangan pernah
melakukan apa yang dilakukan makhluk-makhluk planet BLOK. Dan ingatkan
orang-orang di bumi tentang apa yang akan terjadi jika mereka menjadi
pemikir yang buruk.
Menjadi Pemikir yang lebih Baik
Ironisnya, pelajaran berpikir yang diajarkan di planet itu sesungguhnya
sama dengan pelajaran berpikir yang diajarkan di bumi agar kita menjadi
pemikir yang lebih baik, yaitu:Bersabarlah ... jangan mengharapkan
penyelesaian yang mudah dan cepat untuk setiap masalah yang kita hadapi.
Pemikiran yang baik sering memakan waktu dan memaksa anda untuk membuat
perencanaan, membaca, mendengar, bertukar pendapat, dan
sebagainya.Tentukan tujuan ... berpikirlah tentang apa yang harus (atau
bisa) anda lakukan sekarang (tujuan jangka pendek) dan apa yang harus
anda kerjakan dengan sabar, langkah demi langkah, untuk sampai pada
tujuan yang anda inginkan (tujuan jangka panjang).
Asahlah rasa ingin tahu anda ... kumpulkan pelbagai macam informasi,
pertimbangkan beberapa kemungkinan solusi untuk sebuah persoalan, dan
sebagainya.Berpikir logis ... hindari "lonjakan" emosi atau tanggapan
yang muncul seketika dari batok kepala anda; cermati persoalan dari
segala sisi; ajukan solusi yang sehat dan masuk akal; kemudian landasi
pertimbangan anda dengan solid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar